Bagaimana Tugas Generasi Millenial Di Kurun Industri 4.0

Bagaimana Peran Generasi Millenial di Era Industri  Bagaimana Peran Generasi Millenial di Era Industri 4.0


Bagaimana Peran Generasi Millenial di Era Industri 4.0 “

Emang apa sih zaman industri 4.0 itu? Atau apakah Generasi Millenial itu ? Aku tuh gatau. Nah oleh lantaran itu,  kalian wajib membaca artikel ini hingga habis dan selesai ya guys, supaya kalian sanggup memahami semua ini ya.

Making Indonesia 4.0

Mencerminkan kesungguhan negara sedang menyesuaikan diri dengan ragam perubahan besar pada era revolusi industri keempat (Industri 4.0) kini ini. Kewajiban negara pula untuk menyiapkan generasi milenial menjadi angkatan kerja yang kompetitif dan produktif sepanjang era Industri 4.0 itu.
Perwujudan kreativitas generasi milenial pada dunia pendidikan dan sosial budaya menjadi sorotan publik akhir-akhir ini. Terlebih kemunculan revolusi industri 4.0 yang menuntut masyarakat semoga lebih inovatif dalam menyikapi permasalahan yang ada.

Indonesia sudah menapaki era Industri 4.0,

Yang antara lain ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi. Namun, belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau efek dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. Bahkan, fakta-fakta perubahan itu masih sering diperdebatkan. Misalnya, banyaknya toko konvensional di sentra belanja (mall) yang tutup sering dipolitisasi dengan argumentasi bahwa kecenderungan itu disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat. Padahal, toko-toko konvensional memang mulai menghadapi duduk kasus serius atau minim pengunjung lantaran sebagian masyarakat perkotaan lebih menentukan sistem belanja online. Dari beli baju, sepatu, dan buku hingga beli masakan semuanya dengan pola belanja online

Berkembangnya era disrupsi akan berpotensi menurunkan kualitas pendidikan dan sosial budaya di negeri ini. Maka dari itu tugas generasi milenial sangat diperhitungkan dalam menentukan arah masa depan negeri ini.
Industri surat kabar pun mengalami penurunan skala bisnis yang cukup signifikan, lantaran tak bisa bisa menghindari efek dari pesatnya pertumbuhan media online. Beberapa ilustrasi ini menggambarkan perubahan yang muncul akhir digitalisasi dan otomasi dalam era Industri 4.0 kini ini. Perubahan-perubahan besar menjadi tak terhindarkan ketika dunia harus bertransformasi mengikuti perubahan zaman.
Revolusi Industri Pertama ditandai dengan mekanisasi produksi memakai tenaga air dan uap. Lalu, produksi massal menjadi sebuah kemungkinan yang terbuka berkat adanya tenaga listrik pada Revolusi Industri Kedua. Sektor industri kemudian bisa mewujudkan otomatisasi produksi pada Revolusi Industri Ketiga lantaran pertolongan industri elektronik dan teknologi informasi. Semua perubahan itu mendorong insan beradaptasi, lantaran pada karenanya akan mengubah perilaku, cara bekerja hingga tuntutan keterampilan. 

Masih ada beberapa referensi perihal efek dari pembiasaan era Industri 4.0.

Misalnya, lantaran faktor e-banking dan pesatnya perkembangan sistem pembayaran, 30 persen pos pekerjaan pada setiap bank diprediksi akan hilang dalam beberapa tahun mendatang. Maka, akhir-akhir ini pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perbankan pun tak terhindarkan. Lalu, berlakunya ketentuan e-money untuk bayar tol pun punya efek terhadap pekerja yang selama ini melayani pembayaran tunai di semua pintu jalan tol.

Generasi milenial merupakan nahkoda bangsa yang harus siap menghadapi terjangan arus akhir revolusi industri 4.0 serta siap berinovasi demi mewujudkan Indonesia emas, bertujuan untuk membuat mahasiswa millenial yang kritis, kreatif dan siap untuk berperan di era revolusi industri 4.0. Sebab, kalau ditelusuri lebih lanjut kualitas pendidikan dan sosial budaya kita semakin hari semakin menurun. Sehingga perlu adanya pencegahan dan optimalisasi tugas mahasiswa milenial menuju masa depan yang lebih baik.

Era Industri 4.0

Akan terus menghadirkan banyak perubahan yang tak bisa dibendung. Karena itu, ada urgensinya kalau negara perlu berupaya maksimal dan lebih gencar memberi pemahaman kepada semua elemen masyarakat perihal hakikat era Industri 4.0 dengan segala konsekuensi logisnya. Langkah ini penting lantaran belum banyak yang berminat memahami Industri 4.0. Masyarakat memang sudah melakoni beberapa perubahan itu, tetapi kepedulian pada tantangan di era digitalisasi dan otomasi kini ini pun terbilang minim.
Maka, negara harus mengambil inisiatif mendorong semua elemen masyarakat lebih peduli era Industri 4.0. Dengan memberi pemahaman yang lebih utuh dan mendalam, masyarakat dengan sendirinya akan terdorong untuk bersiap menghadapi sekaligus merespons perubahan-perubahan dimaksud. Pun menjadi sangat penting yakni mendorong sektor pendidikan nasional --dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi-- menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan tantangan dan kebutuhan pada era kini ini. Kurikulum yang membuka kanal bagi generasi milenial mendapat ilmu dan training untuk menjadi pekerja yang kompetitif dan produktif.

Dalam konteks industri dan produksi, Industri 4.0

Dipahami sebagai komputerisasi pabrik, atau otomasi dan rekonsiliasi data guna mewujudkan pabrik yang cerdas (smart factories). Terstruktur dalam pabrik cerdas ini yakni robot atau cyber physical system(sistem siber-fisik), Internet untuk Segala (IoT), komputasi awan (cloud), dan komputasi kognitif. Semuanya serba digital. Sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, membuat salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Kemudian, melalui IoT, sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama satu sama lain dan dengan insan secara bersamaan. Lewat cloud, disediakan layanan internal dan lintas organisasi, yang dimanfaatkan oleh banyak sekali pihak di dalam rantai nilai manufaktur.
Para kaum akademisi diharapkan sanggup berperan dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Maka wajib hukumnya bagi cowok untuk berada pada garda terdepan dalam menyikapi revolusi industri 4.0 dengan kreativitas yang mumpuni.

Untuk merespons perubahan pada era Industri 4.0,

Pemerintah telah bersiap dengan merancang peta jalan (road map) berjudul Making Indonesia 4.0, sebagai taktik Indonesia memasuki era digital dikala ini. Making Indonesia 4.0 menetapkan arah yang terang bagi masa depan industri nasional. Negara berketetapan untuk fokus pada pengembangan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan, serta menjalankan 10 inisiatif nasional untuk memperkuat struktur perindustrian Indonesia, termasuk inisiatif mempersiapkan tenaga kerja yang jago serta keterampilan khusus untuk penguasaan teknologi terkini.

Belum usang ini, Presiden Joko Widodo juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengelompokkan lima industri utama yang disiapkan untuk Revolusi Industri 4.0. "Lima industri yang jadi fokus implementasi Industri 4.0 di Indonesia yaitu industri masakan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia," kata Presiden dikala membuka Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pada pekan pertama April 2018.

Menurut Presiden, kelima industri tersebut ditetapkan menjadi tulang punggung guna meningkatkan daya saing. Lima sektor tersebut juga dinilai Presiden akan menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi gres berbasis teknologi. Memang, era Industri 4.0 sudah menghadirkan pabrik cerdas lantaran kecerdasan buatan atau artificial intelligence(AI). Namun, peluang bagi tercipta dan tersedianya lapangan kerja gres tetap terbuka. 

Persiapan negara berlanjut dengan gagasan pembangunan infrastruktur digital.

Saat ini, Kementerian Perindustrian bersama Kemenkominfo serta PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sedang melakukan mapping penerapan teknologi 5G di sejumlah daerah industri. Sebab, sektor industri butuh konektivitas serta interaksi melalui teknologi gosip dan komunikasi yang terintegrasi dan sanggup dimanfaatkan di seluruh rantai nilai manufaktur demi efisiensi dan peningkatan kualitas produk.

Kreativitas dan bantuan generasi milenial dalam dunia pendidikan dan sosial budaya menjadi hal yang sangat krusial atau penting. Sebab mereka yakni generasi yang akan mewarisi bangsa ini dengan mengoptimalkan tugas cowok demi kemajuan bangsa di era persaingan global yang semakin memanas.
Pembangunan sumber daya insan dibutuhkan untuk menghadapi bonus demografi. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, bonus demografi akan menjadi bahaya di masa depan.
Revolusi Industri merupakan sebuah perubahan secara besar-besaran di banyak sekali bidang kehidupan insan menyerupai manufaktur, pertanian, pertambangan, transportasi, serta teknologi. Tidak sanggup dipungkiri bahwa perubahan-perubahan yang terjadi akan mempunyai efek pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya yang ada di dunia khususnya Indonesia.
Revolusi industri sendiri sudah memasuki empat tahap, dimulai pada kala ke-18 dan terus berkembang hingga di kala ke-21, dimana revolusi industri 4.0 mulai di gemakan. Mungkin bagi sebagian dari kita sudah tidak ajaib lagi mendengar kata revolusi industri 4.0. Pasalnya revolusi industri 4.0 sedang hangat diperbincangkan oleh pemerintah Indonesia, yang kabarnya Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk memasuki era revolusi industri 4.0. Tidak hingga disitu  revolusi industri 4.0 sendiri juga sempat disinggung dalam debat capres pada tanggal 31 April 2019 yang lalu. Tak ayal banyak dari masyarakat Indonesia yang mulai mempertanyakan apa itu revolusi industri 4.0.

Sebelum kita mengenal lebih dalam mengenai revolusi industri 4.0,

Ada baiknya kalau kita mengetahui bahwa revolusi industri pertama kali terjadi pada kala ke-18 di Britania Raya dan  ditandai dengan ditemukannya mesin uap, seiring dengan perkembangan zaman terjadilah revolusi industri yang kedua dimana teknologi mesin uap mulai bergeser dan digantikan dengan elektrifikasi atau listrik, kemudian revolusi industri ketiga pun berlanjut ketika ditemukannya komputer, hingga kini terbentuklah revolusi industri keempat yang ditandai dengan ditemukannya internet beserta teknologi digital. 

Revolusi industri 4.0

Pertama kali dikemukakan oleh Profesor Klaus Schwab yang ditulis pada bukunya yang berjudul " The Fourth Industrial Revolution " dimana dalam buku ini menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 secara mendasar sanggup mengubah cara hidup manusia, bagaimana insan berinteraksi dengan sesama, dan bekerja.
Seperti yang sanggup kita lihat di zaman kini dengan adanya peranan teknologi di banyak sekali aspek kehidupan manusia, maka pekerjaan insan sanggup menjadi lebih gampang serta efisien. Di satu sisi hal tersebut akan sangat menguntungkan bagi negara Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi.
Tetapi disisi lain perkembangan teknologi yang pesat ini ditakutkan sanggup mengambil alih kehidupan insan sehingga membuat kekacauan dalam tatanan masyarkat. Seperti referensi yakni hilangnya lapangan pekerjaan. Hal tersebut turut didukung oleh pernyataan yang diungkapkan oleh McKinsey Global Institute yang menyebutkan bahwa diprediksi revolusi industri sanggup menghilangkan kurang lebih 800 juta lapangan pekerjaan dikarenakan telah digantikan oleh robot. Tentu saja hal ini merupakan sebuah tantangan bagi para mahasiswa Indonesia untuk sanggup bersaing di dunia global. Oleh karenanya di era revolusi industri 4.0 ini penting sekali tugas perguruan tinggi untuk membekali mahasiswanya dengan banyak sekali softskill yang sanggup menyebarkan potensi serta kreativitas dan juga inovasi.

Hal ini disampaikan oleh Menristekdikti

Pada Senin (15/4) ketika memperlihatkan kuliah umum di Universitas Mataram. Terdapat beberapa softskill yang sangat penting untuk diasah dan dimiliki oleh mahasiswa di era revolusi industry 4.0, yaitu: kemampuan dalam berbahasa asing, kemampuan dalam memecahkan masalah, public speaking, kemampuan dalam berkomunikasi, kemampuan untuk berpikir kritis, serta kepemimpinan.
Dengan dikuasainya kemampuan-kemampuan tersebut maka ketika mahasiswa tersebut lulus ia akan mempunyai nilai tambah untuk sanggup bersaing di dunia global. Oleh lantaran itu dibutuhkan pertolongan dari banyak sekali pihak menyerupai pemerintah dan juga perguruan tinggi supaya sanggup mencetak mahasiswa millennial sebagai Sumber Daya Manusia yang kreatif dan inofativ yang bisa bersaing dan menyiptakan lapangan pekerjaan gres di era revolusi industry 4.0.
Okee itulah sekian pembahasan saya mengenai Bagaimana Peran Generasi Millenial di Era industri 4.0, semoga gosip ini bermanfaat dan sanggup diterima banyak orang.

Tidak ada komentar