Penyebab Anak Bosan Berguru

 Saya tau kalian niscaya mencicipi itu semua ketika dalam keadaan berguru apalagi dalam kegiat Penyebab Anak Bosan Belajar

Penyebab Anak Bosan Belajar  


Pasti kalian bertanya – tanya kan ? Belajar kan emang bosan ... ? Bosan ah ! Gaseru ! Bikin ngantuk aja ! Hahaha. Saya tau kalian niscaya mencicipi itu semua ketika dalam keadaan berguru apalagi dalam kegiatan berguru mengajar ketika di sekah, niscaya kalian pernah mencicipi ngantuk dan penat. Tenang, itu ialah manusiawi. Yuk dibaca !
Beberapa anak akseptor bimbingan berguru itu tampak sangat mengantuk, tak jarang mereka menguap dan secara tidak sadar kepala mereka telah berada di atas meja. Padahal sebelum bimbingan berguru berlangsung, mereka bermain dengan riang dan gembira seakan tidak ada lelahnya. Apakah mereka kelelahan lantaran asyik bermain? Atau lantaran kegiatan sekolah? Mungkinkah berguru itu lebih melelahkan dari pada olahraga?
Setiap insan akan mengalami kebosanan terhadap sesuatu. Tidak pandang status, pangkat dan kedudukan, jenis kelamin, usia dan sebagainya. Artinya, siapapun mempunyai rasa bosan. Itu hal yang lumrah terjadi. Kata orang pintar, kebosanan itu merupakan kondisi psikologis yang bersifat alamiah.
Salah seorang pakar ilmu jiwa (Dr. Dale Carnegie), menjawab situasi mirip ini melalui analisa kejiwaan. Menurut beliau, Otak ialah organ badan yang tidak akan mengalami lelah. Otak berbeda dengan organ badan lainnya yang bila melaksanakan pekerjaan akan mengalami capek dan lelah. Oleh lantaran itu, otak insan tidak akan mungkin merasa lelah walau dipakai untuk berpikir dan berguru selama sehari semalam. Kelelahan otak terjadi akhir dari rasa bosan dan penat yang dialami seseorang. Perasaan bosan dan penat inilah yang mengakibatkan seseorang cepat merasa lelah dan ingin menghentikan pekerjaannya untuk kemudian beristirahat. Untuk lebih jelasnya, Carnegie memberikan analogi sederhana untuk mendeskripsikan Ada seorang karyawan bekerja di suatu perusahaan yang lokasinya relatif tidak jauh dari rumahnya, dan bila pulang kerja ia tampak begitu lelah hingga ketika hingga di rumah, ia pribadi menuju ke kamar untuk tidur. Namun, ketika ada telepon dari kawannya memberikan untuk pergi tamasya ke kawasan wisata yang jauh, seketika itu juga rasanya ia sanggup untuk pergi ke tujuan wisata yang relatif jauh dari rumahnya. Orang tersebut merasa lelah lantaran rutinitas membosankan yang dilalui selama ia bekerja. Ketika ia diajak untuk melaksanakan hal yang digemarinya ternyata rasa capek itu seolah sirna. 
Hal yang semacam ini kerap kali dialami para siswa. Tidak sedikit di antara mereka yang mengantuk ketika pelajaran sedang berlangsung. Celakanya, ketiduran di kelas membuat dampak negatif yang besar bila pelajaran yang penting tersebut belum dipahami oleh siswa. Oleh lantaran itulah, biar tujuan berguru tercapai sesuai dengan sasaran yang ditentukan, para guru dan pengajar hendaknya mengetahui hal-hal yang sanggup mengakibatkan kebosanan dan kepenatan dalam proses berguru mengajar.
Anak-anak, remaja, dan orang cendekia balig cukup akal berpeluang untuk merasa jenuh alias bosan. Anak-anak merasa bosan bermain, misalnya. Siswa di sekolah bosan belajar. Orang renta siswa bosan bekerja. Bosan bekerja artinya bosan mencari uang! Bosan dengan uang berarti bosan hidup.
Pembahasan kita difokuskan pada bosan belajar! 
Mengapa siswa bosan belajar?
Lazimnya pekerjaan atau kegiatan rutin dan monoton cenderung mendatangkan kejenuhan. Kegiatan siswa di sekolah atau di rumah cenderung itu ke itu juga. 
Di sekolah belajar. Di rumah juga berguru plus membuat pekerjaan rumah yang segudang. Itu berlangsung setiap hari, setiap ahad bahkan setiap bulan. Belajar itu wajib bagi siswa dan berlangsung setiap hari. Datang ke sekolah, duduk mendengar guru membuktikan pelajaran. Kemudian hingga di rumah harus mengerjakan pekerjaan rumah ( PR ) yang diberikan oleh guru. PR itu seabrek banyaknya.
Setiap siswa  mempunyai ambang batas kebosanan yang berbeda. Ada tipe siswa yang gampang bosan alias pembosan. Ada pula yang tidak gampang bosan. Ini hanya  dua huruf berbeda terhadap rasa bosan. Kadang-kadang batas kebosanan itu  tergantung pada bagaimana siswa dalam meredakan atau mengatasi kebosanannya sendiri. 
Nah oleh lantaran itu, saya disini sebagai penulis artikel akan memberikan gosip kepada kalian perihal 9 faktor yang mengakibatkan berguru menjadi cepat bosan. Pasti kalian penasaran, bukan ? Yuk dibaca lagi !
  1. Mata Pelajarannya
Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik masing-masing dan mengandung kekhususan yang membedakan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya. Maka dari itu, cara pengajaran tiap mata pelajaran itu berbeda-beda. Ada yang penyampaiannya sanggup dilakukan hanya teoretis saja, ada yang memerlukan praktik, bahkan ada yang harus melaksanakan eksperimen atau percobaan.
Dalam sudut pandang ilmu didaktik, para pengajar harus menerapkan metode yang sempurna biar pelajaran yang ia sampaikan tidak membosankan. Ada beberapa pelajaran yang “rawan” dalam hal ini, biasanya pelajaran-pelajaran yang memerlukan metode penyampaian satu arah cenderung lebih membosankan dari pada metode berguru dua arah, mirip Sosiologi, Sejarah, dan Ekonomi. Dalam mata pelajaran Sosiologi yang berisi analisa dari para sosiolog perihal gejala-gejala yang timbul dalam masyarakat, bila sang pengajar menjelaskan pelajaran ini dengan gaya yang monoton, tidak jarang akan mengakibatkan perasaan bosan yang sanggup memecah konsentrasi berguru para siswa. Demikian juga dengan ilmu Sejarah, bila guru tidak pandai membuktikan dan menyampaikannya kepada para siswa, bisa-bisa malah menjadi kisah empuk pengantar tidur.

Pelajaran-pelajaran eksak memang tak memakai metode pengajaran satu arah, lantaran harus disampaikan dengan metode latihan dan eksperimen. Namun tak jarang guru malah menerapkan metode pengajaran satu arah. Bila pelajaran Kimia umpamanya diajarkan hanya melalui klarifikasi verbal dari pengajar, tentu akan mengakibatkan kepenatan luar biasa di kalangan siswa.

Jadi, metode satu arah sanggup diterapkan asal memakai cara yang interaktif, motivatif, inspiratif, dan membangun huruf siswa, lantaran cara ini akan mengikut sertakan siswa dalam proses berguru mengajar yang tentunya memacu konsentrasi siswa dalam menyerap pelajaran.
  1. Tidak Fokus Pada Tujuan
Belajar itu harus punya tujuan. Misal, kau berguru dengan gigih itu buat naik kelas. Atau bisa lebih terperinci lagi. Contohnya kau mau nilai ulangan matematika itu sanggup nilai 95. Nah, tujuan yang kayak gitu tuh anggun banget. Sayangnya, bagi beberapa orang, mereka berguru ya hanya berguru aja. Ngga tau tujuannya apa. Lama-kelamaan bakalan bosan lantaran mengulang rutinitas yang sama.
  1. Lingkungan Tidak Memberikan Dukungan
Salah satu faktor suksesnya berguru bagi seseorang ialah tunjangan dari orang di sekitarnya. Beruntunglah bagi teman-teman yang mempunyai orang tua, teman, sahabat, kakak, atau siapa pun itu yang selalu semangat dalam memberikan tunjangan untuk kau dalam kegiatan belajar.
  1. Strategi Belajar Yang Asal – Asalan
Belajar itu menyerupai persiapan menghadapi perang, dalam artian ulangan ya. Perang mengontrol diri untuk percaya pada kemampuan kamu. Oleh karenanya, taktik dalam berguru itu perlu ya teman-teman. Kalau asal berguru dan memaksakan harus paham dalam satu kali latihan
  1. Tidak Punya Waktu Istirahat
Menjelang ujian, niscaya frekuensi berguru kau makin lebih intensif. Bahkan, jauh-jauh hari sebelumnya sudah digenjot demi mencapai tujuan tamat yang pastinya bisa membuat kau puas dan bangga. Saking semangatnya, kau berguru terus-menerus hingga lupa waktu istirahat. Coba deh relaksasi sebentar, entah tidur, atau hangout sebentar untuk melepas rasa jenuh ketika belajar.
Ini berkaitan dengan faktor nomor 1 lho guys.
  1. Ingin Hasil Yang Instant
Sudah berguru dengan rutin, gigih, dan tak kenal frustasi tapi karenanya ngga memuaskan. Lama-lama bosen dan ngga percaya diri dengan kemampuan kamu. Ngaku deh. Begini lho teman-teman, yang namanya berguru itu ngga cuma ngerjain 10 soal latihan terus pribadi paham. Ada proses yang harus kau lalui biar paham. Jadi, sudah dipastikan kalau berguru itu ngga instant, emangnya mi.
  1. Kurangnya Rangsangan Keaktifan Siswa Dalam Belajar
Tingkat kecerdasan setiap siswa berebeda-beda. Ada siswa yang cerdas sehingga bisa menyerap pelajaran dalam sekali penyampaian, dan ada juga siswa yang harus menerima berulang kali pengarahan gres ia mengerti dan memahami suatu pelajaran. Siswa yang bisa menyerap pelajaran dengan gampang bisanya lebih aktif daripada siswa yang kurang bisa menyerap pelajaran dengan baik, hal ini lantaran kebanyakan mereka menganggap bahwa dirinya tidak akan bisa memahami pelajaran (rendah diri). Ini menjadi penyebab terpenting dalam membangun kebosanan bagi siswa. Oleh lantaran itu, setiap guru dituntut untuk merangsang keaktifan para siswa. 
Contoh gampang ialah dengan membuat sebuah game sederhana yang memacu keaktifan pelajar, berupa kuis yang berisi pertanyaan kebijaksanaan atau hal-hal menyenangkan lainnya. Yang penting adalah, sedapat mungkin para guru membuat semua siswa aktif dalam berguru dengan membuat kegiatan yang mengasyikkan. Jangan biarkan para siswa berguru secara pasif. Sebagaimana yang telah disinggung di poin pertama, hendaknya setiap siswa di ikutsertakan dalam proses pembelajaran, lantaran hal ini sangat menguntungkan bagi guru dan siswa, lantaran guru dan siswa masing-masing akan mengetahui kelemahannya untuk kemudian dievaluasi biar tercipta proses berguru mengajar yang lebih baik.
  1. Pendekatan Yang Salah
Seringkali seorang guru mencoba untuk membangun image yang menjadikan dirinya berwibawa. Namun banyak guru salah kaprah dalam menerapkan image ini. Bukannya bertambah wibawa, tidak jarang malah mereka menjadi ajukan di kalangan siswa. Ini terjadi lantaran para pengajar sering melaksanakan pendekatan yang salah terhadap para siswanya.

Masih berdasarkan Dr. Carnegie, tidak ada seorang insan pun yang rela direndahkan derajatnya dan harga dirinya. Oleh lantaran itu, bila seorang guru membangun wibawanya dengan cara menyombongkan dirinya dan menjatuhkan harga diri siswanya melalui kata-kata yang memperlihatkan bahwa hanya sang gurulah yang benar, maka klarifikasi dari guru tersebut tidak akan pernah didengar oleh para siswa, sebaliknya mereka akan mencari kesibukan masing-masing atau bahkan mereka tidur di kelas. Demikian halnya bila sang guru memberi kesan biar siswa-siswa takut kepadanya, yang terjadi ialah para siswa hanya akan hormat sesaat kepada sang guru yaitu pada ketika jam pelajaran sedang berlangsung, akan tetapi di luar itu sang guru tersebut menjadi materi ajukan dan materi tertawaan bagi siswanya. Jadilah guru yang disegani bukan ditakuti, lantaran kalau disegani walaupun gurunya tidak ada mereka tetap hormat, tapi kalau ditakuti, begitu gurunya tidak ada pribadi menjadi materi tertawaan. 

Pendekatan semacam ini mengakibatkan guru sering menganggap remeh kepada siswanya, sehingga ia pun mengajarkan hal-hal yang gotong royong telah diketahui oleh siswanya, dan yang lebih parahnya lagi, apa yang ia ajarkan itu terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Jika ini terjadi, maka sanggup dipastikan siswa tidak akan mau berkonsentrasi, lantaran ia merasa telah memahami permasalahan tersebut lebih baik daripada gurunya.
Padahal sebagai seorang guru yang baik, sudah seharusnyalah untuk berlaku adil. Maksudnya, walaupun secara perhitungan garang lebih banyak didominasi siswanya berpengetahuan rendah, tapi tetap ada beberapa siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata, mereka juga mempunyai hak untuk diberi pelajaran yang lebih baik, dan setiap guru harus bisa mengayomi minat berguru siswanya.
Dalam ilmu retorika, seorang pembicara akan sukses bila apa yang ia sampaikan betul-betul sanggup mengubah pikiran orang lain, dan ini hanya akan terjadi, bila sang pembicara bisa menarik minat pendengar, yaitu dengan cara melaksanakan pendekatan yang sesuai dengan impian pendengar. Hal inilah yang harus dipelajari setiap guru biar sukses dalam memberikan materi pelajaran kepada siswa-siswanya.
  1. Kondisi Kejiwaan Yang Tidak Mendukung
Kondisi fisik yang baik belum tentu akan menghasilkan perbuatan yang baik pula, walaupun pepatah berkata bahwa "di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula", namun faktanya sering berlainan. Maka kondisi kejiwaan (mood) harus benar- benar sesuai biar membuat hasil yang sesuai pula. Manusia sebagai makhluk yang cerdas gotong royong lebih sering dipengaruhi oleh keadaan jiwa dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Maka dari itu, guru haruslah mengetahui mood siswa-siswanya, jangan-jangan siswa tersebut sedang ada persoalan di luar sekolah, entah di rumah atau di kawasan lainnya. Adakanlah bimbingan konseling untuk mengatasinya, jadikanlah sekolah sebagai kawasan yang nyaman dan melindunginya, ini akan membantu untuk meningkatkan gairah dan semangat belajarnya.
Sebagai pesan epilog dari saya sebagai penulis, hindarilah 9 hal di atas biar tercipta suasana berguru yang menjadi idaman semua pelajar. Ingatlah, berguru yang baik itu tidak penting mahal atau fasilitasnya harus canggih, lantaran hal tersebut tidak menjamin proses berguru yang efektif tanpa adanya metode berguru yang baik, tapi yang terpenting ialah bagaimana caranya kita untuk menjadikan berguru itu menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Nilai hasil berguru tidak akan memuaskan. Bahkan bisa banyak mata pelajaran yang tidak tuntas. Resikonya bisa tidak naik kelas. Bosan berguru berarti bosan naik kelas! Makanya jangan gampang bosan ya?
Nah itulah sedikit gosip dari saya mengenai judul “ Kebosanan Dalam Belajar “ semoga kalian termotivasi untuk selalu berusaha menjadi tidak cepat bosan dalam segala hal.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar