Sistem Pendidikan Kita Yang Mengalami Ketertinggalan Jauh

Sistem Pendidikan Kita Yang Mengalami Ketertinggalan Jauh  Sistem Pendidikan Kita Yang Mengalami Ketertinggalan Jauh


Pendidikan Yang Mengalami Ketertinggalan Jauh

Pasti kalian bertanya – tanya kan mengapa judul artikel yang saya buat menyerupai ini kan ? Hahah hayoo jujur hehe. Nah memang nyata nya itu, tingkat pendidikan Indonesia mengalami ketertinggalan jauh dengan negara – negara lain baik yang ada di sekitar Indonesia dan negara – negara yang ada di luar jangkauan Asia.

Oke yuk kita bahas. Simak baik – baik ya !

Mutu pendidikan di Indonesia dinilai masih kurang baik dibandingkan dengan negara-negara di daerah OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development). Negara-negara di daerah OECD sendiri ada 35, termasuk Kanada, Amerika Serikat, Australia, Jerman, Turki, Finlandia, Perancis, Belanda, Jepang dan Korea Selatan. Hal itu dikatakan Rektor UPI Bandung, Prof. Furqon, ketika peringatan dies natalis ke-62 UPI di Aula UPI, Kamis 20 Oktober 2016. Bahkan dia mengatakan, Indonesia membutuhkan waktu 300 tahun biar mutu pendidikannya setara dengan negara-negara OECD sehingga harus ada kebijakan dan langkah nyata untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir ketika peringatan Dies Natalis ke-41 UNS (Sabtu, 11 Maret 2017), Mohamad Nasir juga menunjukkan pesan bahwa perguruan tinggi Indonesia perlu berbenah. Beliau menyebut jumlah perguruan tinggi Indonesia ialah 4400, dua kali lipat lebih banyak dibandingkan perguruan tinggi di Tiongkok yang hanya 2824. Namun jumlah perguruan tinggi Tiongkok yang masuk ranking dunia yaitu 18, sembilan kali lipat lebih banyak dibanding Indonesia yang hanya 2 perguruan tinggi.

( Data Pendidikan.id yang dirilis pada tahun 2017 ) .

Nasir juga menyebut soal angka publikasi internasional perguruan tiggi Indonesia yang masih jauh tertinggal dibanding negara-negara di Asia Tenggara, menyerupai Malaysia, Singapura dan Thailand. Pada tahun 2015, publikasi internasional Malaysia sebanyak 28 ribu, Singapura 18 ribu, Thailand 11 ribu, dan Indonesia hanya 4.200. Namun melalui pembenahan anggaran dan regulasi, pada simpulan tahun 2016 Indonesia bisa merangkak naik pada angka 9989. Bahkan per 9 Maret 2017, perguruan tinggi Indonesia berhasil mengumpulkan publikasi internasional hingga sebanyak 11375.
Suatu pembenahan diri yang elok di belahan publikasi internasional. Namun faktanya, hingga ketika ini perguruan tinggi Indonesia yang meraih ranking 500 besar world top university masih berjumlah dua. Seperti hasil rank dari Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking 2016/2017 terhadap lebih dari 3800 Perguruan Tinggi di 81 negara di dunia, Universitas Indonesia berada di tingkat 325, dan Institut Teknologi Bandung di tingkat antara 401 - 410 sepanjang tahun.
Sebagai negara berkembang, Indonesia bahwasanya bisa bersaing dengan negara lain di bidang pendidikan, paling tidak dengan negara-negara di Asia. Apalagi didukung dengan universitas-universitas yang dinilai unggul. Namun pertanyaannya kemudian, mengapa hingga kini pendidikan Indonesia masih tertinggal? Berikut sedikt ulasan mengenai alasan-alasan mengapa Indonesia masih sulit berada di depan dalam hal pendidikan.
  1. Pendidikan yang Belum Merata. 

Masalah ini merupakan problem klasik yang belum selesai hingga sekarang. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah-daerah tertinggal menimbulkan daerah-daerah tersebut sulit berkembang. Perkembangan pendidikan di daerah-daerah kecil masih tertinggal dengan yang di kota-kota besar. Persoalan ekonomi dan anutan primitif yang menimbulkan hal ini terjadi. Memang hingga ketika ini pemerintah telah mencanangkan jadwal wajib berguru 12 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan masih banyaknya bawah umur yang terputus sekolah sebelum 12 tahun, khususnya di daerah terpencil. Bahkan ada jenjang lebih tinggi yang seharusnya diraih oleh setiap anak. Tetapi nyatanya tak semua anak yang mengambil jenjang perguruan tinggi, termasuk bawah umur di daerah perkotaan.
  1. Kualitas dan Kuantitas Pengajar yang Standar. 

Di Indonesia, profesi sebagai tenaga pengajar (guru/dosen) bukan merupakan primadona atau favorit, mengapa? Karena kesejahteraan guru belum bagus, honor yang masih tergolong kecil sehingga banyak orang-orang unggulan dan berkompeten menentukan profesi lain yang lebih menjanjikan sebagai jalan mencari nafkah. Walapun tidak sedikit juga orang-orang unggulan menentukan jadi guru lantaran pekerjaan yang mulia. Bahkan lantaran kurangnya guru, di Indonesia belahan timur lebih dari sebagian guru masih berijazah SMA! Dan tidak sedikit juga orang-orang yang bahwasanya berkualitas unggul, yang mengajar dengan sembarangan atau ogah-ogahan. Alasannya, kembali lagi pada reward yang masih tergolong kecil dan belum bisa memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik. Sedangkan di Negara-negara maju menyerupai Finlandia, profesi guru merupakan profesi favorit lantaran menjanjikan kesejahteran dan profesi mulia
  1. Kesadaran Pendidikan Belum Dimiliki Semua Masyarakat. Kurangnya perhatian, edukasi dan penyuluhan dari pemerintah ke masyarakat-masyarakat terpencil menciptakan kesadaran akan pendidikan masih kurang. Banyak orang renta yang belum menyadari pentingnya pendidikan untuk bawah umur mereka. Hal ini tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga bisa terjadi di kota besar. Pemikiran yang primitif masih tumbuh di sebagian warga Indonesia, menyerupai "anak wanita tak perlu bersekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan mengurus rumah tangga." Ada pula yang berpandangan, "tak usah sekolah tinggi-tinggi, pribadi bekerja saja karna waktu untuk sekolah kalau dipakai bekerja lebih awal, lama-lama toh akan setara juga gajinya dengan yang sekolah tinggi." Meski pada kenyataannya, rasio orang yang demikian ialah 1:100.
  1. Biaya Sekolah Belum Sepenuhnya Gratis.

Pendidikan Indonesia gratis? Siapa bilang! Pemerintah menjalankan jadwal wajib berguru 12 tahun hanya dengan menggratiskan biaya berguru saja. Sedangkan lain-lain menyerupai biaya buku, seragam, dan alat-alat tulis masih dibebankan kepada siswa. Padahal dilihat dari fungsinya, buku, seragam, dan alat tulis merupakan belahan penting dari pendidikan. Bagi masyarakat yang ekonominya sangat lemah, hal ini justru menjadi masalah. Tidak mungkin mereka ke sekolah dengan tidak memakai seragam, membawa buku dan alat tulis. Kecuali bila ada kebijakan dari sekolah yang bersangkutan.
  1. Fasilitas yang Kurang Mendukung, Karena Anggaran Pendidikan yang Sedikit dan Tidak Tepat Sasaran.

Fasilitas sekolah di kota-kota besar mungkin sudah tidak mengecewakan layak digunakan, tetapi sekolah-sekolah didaerah pelosok sangat memprihatinkan. Papan tulis yang usang, dingklik yang mulai rapuh, meja yang sudah tidak rata, plafon pecah-pecah, hingga bangunan yang sudah hampir roboh sangat mengganggu kenyaman belajar. Bagaimana mau berguru dengan damai kalau para siswa ditakutkan dengan plafon ringkih yang bisa saja tiba-tiba jatuh mengenai mereka. Kurangnya kemudahan dan infrastruktur ini disebabkan oleh anggaran pendidikan yang tidak sempurna sasaran. Anggaran pendidikan bahwasanya sudah cukup banyak porsinya dalam rencana belanja pemerintah (20% dari APBN), namun ternyata tidak cukup untuk membiayai seluruh pendidikan di indonesia. Hal ini mengundang banyak pertanyaan. Entah lantaran timpangnya perhitungan jumlah sekolah dan jumlah anggarannya, atau adanya pihak-pihak yang berlaku curang. Masalah praktik curang dan korupsi, lemahnya penegakan aturan menjadi alasan sulitnya pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun bagaimanapun itu, anggaran pendidikan yang sedikit menciptakan masyarakat malas menjadi guru, malas membayar lagi untuk keperluan sekolah, dan malas lantaran kemudahan di sekolah yang kurang memadai.

Metode pendidikan di Indonesia dinilai tertinggal dan terlalu lama menoton.


Butuh 128 tahun untuk bisa menyamai pencapaian yang diperoleh negara-negara maju ketika ini sebagaimana ditulis oleh seorang profesor dari Harvard.
sistem pendidikan di Indonesia harus dirombak dan jangan terjebak pada rutinitas harian. Selain itu juga menurutnya problem pendidikan di Indonesia disebabkan geografi Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau.
Saya akan memberi contoh, misalkan bawah umur SD (Sekolah Dasar) kenapa tidak dibawa ke kantor bank biar mengerti mengenai sistem keuangan, kenapa tidak diajak ke contohnya pabrik garmen untuk melihat sebetulnya yang namanya pabrik itu apa. Bisa saja diajak ke museum untuk mengenalkan sejarah secara riil, mengenalkan artefak-artefak lama yang konkret.
anak harus pribadi dihadapkan pada tantangan, dihadapkan pada masalah, dihadapkan pada problem-problem yang riil, yang ada sesuai dengan level masing-masing. SD dengan Sekolah Menengah Pertama yang berbeda dong, Sekolah Menengah Pertama dengan Sekolah Menengan Atas yang berbeda, Sekolah Menengan Atas dengan Universitas juga berbeda-beda.
Meski begitu, pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Vietnam. Padahal negara tetangga tersebut juga mempunyai anggaran pendidikan yang sama dengan Indonesia. Dari sisi tenaga pengajar atau guru, Indonesia juga masih banyak kekurangan. Sebab, ada sekitar 25 persen guru yang kemampuan akademisnya kurang memadai.
Bahkan, ada 50 persen guru yang belum atau tidak tersertifikasi. Padahal berdasarkan bank dunia, sertifikasi guru itu termasuk yang paling ringan dan mudah. Kendati begitu, guru yang tersertifikasi juga belum tentu bisa melaksanakan sebagai guru yang baik.
Dalam laporan yang dirilis oleh World Bank Education Global Practice yang berjudul “Growing Smarter-Learning &  Equitable in East Asia & Pacific”, Indonesia memperoleh skor 403. Jauh di bawah Vietnam yang memperoleh skor 525. Sedangkan skor tertinggi diraih Singapura dengan nilai 556. Bagaimana mungkin Indonesia dengan pendapatan perkapita 10.385 dolar AS kalah dari Vietnam yang mempunyai pendapatan perkapita  5.668 dolar AS atau setengah dari pendapatan per kapita Indonesia ?
Hal serupa juga bisa dilihat dari data World Education Ranking yang diterbitkan Organization for Economic Co-operation and Develomnet (OECD) menyerupai yang dilansir The Guardian.  Indonesia menempati peringkat ke-57 dari total 65 negara di dunia. Artinya kualitas pendidikan kita masih tertinggal dari negara lain. Hasil ini tentu mengejutkan. Terlebih anggaran pendidikan yang diberikan oleh pemerintah sudah sebesar 20 persen dari APBN . Seharusnya Indonesia bisa meraih hasil yang lebih baik. 
Ada banyak faktor yang mungkin bisa jadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia menyerupai yang saya sudah sebutkan tadi. Bisa penyebab yang kasat mata menyerupai buruknya kondisi sarana dan prasarana pendidikan. Hadirnya sekolah-sekolah bertaraf internasional dengan kemudahan glamor di kota-kota besar ternyata tidak merembet ke daerah pinggiran. Banyak ditemui sekolah yang nyaris roboh masih dipakai untuk acara berguru mengajar. Belum lagi jalanan menuju sekolah yang lebih menyerupai lokasi syuting film Indiana Jones.
Nah selain faktor yang tidak saya sebutkan di atas itu, ada pula faktor-faktor yang tidak terlihat oleh mata. Untuk hal ini lebih terkait dengan budaya yang ada, menyerupai sekolah yang hanya untuk mencari kerja, budaya malas membaca, dan sebagainya. Buku ialah gudang ilmu, maka kalau malas membaca bagaimana ilmu bisa diperoleh ?

Maka bisa dibayangkan betapa banyak PR yang harus diselesaikan untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Diperlukan kerja keras dan semua aspek biar penyelesaian problem pendidikan bisa paripurna. Dibutuhkan keberanian dan kesungguhan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Beranikah pemerintah melaksanakan hal itu ?
Nah itulah pendapat saya mengenai pendidikan negara kita yaitu Negara Indonesia, semoga pemerintah sebagai pembuat kebijakan, mengambil kebijakan yang efektif dan menciptakan Indonesia maju menyerupai negara – negara yang lainnya 
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar