Sekolah Yang Melelahkan

Selama ini kita terjebak dengan pola pikir bahwa Sekolah Yang Melelahkan

Sekolah Yang Melelahkan
Belajar = Beban | Main = HiburanSelama ini kita terjebak dengan pola pikir bahwa main itu yaitu beban, sedangkan main itu yaitu hiburan. Tapi pernah gak sih terpikir sama kalian kalo aja kita bisa nikmatin proses berguru saya juga ibarat saya menikmati main, pasti hidup saya kerasa lebih enteng dan menyenangkan bukan ? !

SMA atau yang lebih dikenal sebagai Sekolah persiapan menuju kedewasaan. banyak orang menyampaikan masa Sekolah Menengan Atas itu yaitu masa-masa yang paling indah. Belajar itu yaitu ibarat beban hidup seorang pelajar. Seolah-olah ia hidup itu yaitu untuk membaca buku yang cetak, mencatat pembahasan guru yang ada di kelas, terus bikin ringkasan, kemudian hafalin rumus, abis itu bikin tugas, dan yang terakhir kerjain ujian dengan optimal. Yeuhhh cape banget lah !

Siapa sih diantara kalian yang tidak mencicipi lelahnya dalam berguru ? Lelahnya dalam bersekolah sehari hari ? Lelahnya perjalanan kita dalam menuntut ilmu ? Pasti semua bisa mencicipi nya, saya yakin akan hal itu. Karena sejujurnya saya pun juga bisa mencicipi penatnya dalam berguru dalam kehidupan sehari – hari. Tapi kalau tidak ingin mencicipi penatnya atau lelahnya dalam hal belajar, kita bisa menjalankan semua itu. Percayalah. Mau tau bagaimana cara mengatasi penatnya berguru ? Yaitu dengan kesabaran.
Semua orang pasti mencicipi penatnya dalam belajar, mau dari yang anak kecil, remaja, remaja maupun yang sudah lanjut usia. Pasti mereka semua pernah mencicipi penatnya dalam belajar. Karena itu merupakan sifat alamiah atau sifat dasar dari semua insan yang ada. Pasti kalian semua pernah mencicipi penatnya dalam hal berguru ?, Ya kan ?
Ketahuilah semuanya, bahwa tabah yaitu pilar menuju kebahagiaan seorang hamba. Dan dengan kesabaran itulah seorang hamba akan menjadi terjaga dari yang namanya kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi banyak sekali macam cobaan yang ada. Sekali lagi percaya lah !
Tapi kalau kita melaksanakan hal itu semua dengan hati yang ikhlas, sabar, dan tenang. Saya yakin kalian semua berpengaruh dalam menjalankan hal itu semua. Sekali lagi “PERCAYALAH”. Banyak laba yang bisa kalian dapati kalau hati kalian sabar, ikhlas, dan hening dalam melaksanakan hal itu semua, contohnya kalian menjalankan sesuatu hal atau aktivitas yang dilakukan dengan hati yang sabar, pasti kalian akan mendapat ganjaran atau tanggapan berupa rezeki yang tidak kalian kira datangnya dari Allah 'Azza wa Jalla. 
Rezeki merupakan karunia diberikan oleh Allah Swt. yang diberikan kepada hamba – Nya yang beriman maupun yang tidak beriman. Bentuk rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. tidak harus berupa uang saja loh semuanya, melainkan bisa dalam bentuk segala sesuatu yang tiba dari Allah SWT. dan bermanfaat bagi kita semua yaitu para hambanya. Misalnya nih bisa dalam bentuk kesehatan, kebahagiaan, terhindar dari petaka dan yang lain sebagainya. Rezeki pada hakikatnya dari Allah Sang Maha Pemberi Rezeki, tapi pasti diberikan melalui mediator makhluk – Nya.
Sebenarnya nih banyak lho macam – macam rezeki yang mungkin tidak kalian ketahui lho guys.
  1. Pertamarezeki yang akan tiba secara eksklusif dari Allah Swt. Rezeki tersebut pada halnya suda bersifat permanen dan bersifat mutlak atas kehendak – Nya yang sudah tidak sanggup dinegosiasi oleh siapapun juga.

  1. Kedua, rezeki lantaran alasannya yaitu usaha. Selain dengan mengandalkan rezeki yang telah ditetapkan oleh – Nya dengan bertawakal, kita sebagai makhluk yang diberi kemampuan oleh-Nya juga dianjurkan untuk berusaha setiap hari, lantaran kalau kita ditakdirkan oleh Allah untuk berusaha, berarti sudah pasti Allah sudah menyiapkan hal yang terbaik untuk diberikan kepada kita. Maksudnya ialah, apabila Allah menakdirkan kebajikan pada insan ia akan berusaha taat pada - Nya. Bila sudah menakdirkan keburukan, insan berusaha maksiat pada - Nya. Begitu juga kalau Dia menakdirkan untuk menjadi orang yang sukses, maka ia takdirkan sebagai orang yang rajin dalam bekerja dan berusaha.

  1. Ketigarezeki lantaran alasannya yaitu pernikahan. Menikah memang yaitu sebuah awal dari sebuah kehidupan yang baru, lantaran dengan adanya komitmen nikah kehidupan kita secara otomatis akan berubah. Yang asalnya tidak mau memikirkan kebutuhan ekonomi, sesudah menikah kita akan dituntut untuk menunjukkan nafkah untuk anak dan istri. Oleh lantaran itu, banyak orang yang menentukan menikah ketika sudah mendapat pekerjaan tetap. Namun di balik itu semua Allah Swt. telah menyiapkan rezeki guna untuk memenuhi kebutuhan mereka yang telah menikah.
Saya ingin mencotohkan bagaimana dulu saya malas atau mencicipi lelahnya dalam belajar. Saya pun menjalani proses aktivitas berguru mengajar dengan pola pikir yang ibarat itu selama bertahun-tahun. Melewati beban yang berjulukan ‘belajar’, maksain banget untuk berguru walaupun saya tau itu maless nya setengah mati, hahaha.
Dengan cara gitu, ya emang saya bisa bertahan dengan nilai akademis yang lumayan, tapi bukan berarti saya berguru buat jadi orang yang cerdas, tapi berguru cuma lantaran saya males aja kalau dimarahin kalo nggak ngerjain kiprah dan nilai ulangan jelek. Ya, selain itu, saya pun juga mikir kalo ‘sekolah yang bener’ itu emang udah jadi kewajiban untuk saya, dan saya pun harus bisa bertanggung-jawab sebagai seorang pelajar sama orang renta saya yang udah nyekolahin saya. Sekarang saya tanya kepada Anda, apakah Anda juga sempet punya pola pikir yang sama kayak saya waktu di masa sekolah dulu? Pasti nya punya dong pola pikir yang ibarat ini.
Mungkin diantara kalian ada yang pasti mikir… “ Iya emang gua juga mikir kayak gitu sih. Tapi emang apa salahnya  ya dengan mikir ibarat ini ? Belajar itu kan emang harus dipaksain gitu kan toh buat kebaikan kita sendiri dan sebagai bentuk tanggung-jawab kita kepada kedua orang tua. ” Makara gini sih Guys, kalo diliat dari sudut pandang bahwa kita melawan rasa malas untuk belajar emang kesannya keren banget gak sih.. Tapi sebetulnya akan jauh lezat ( dan mungkin juga keren ) buat Anda, kalo aja Anda juga bisa nikmatin proses belajar itu oleh diri Anda sendiri!

Dalam agama Islam anyak sekali manfaat dari ilmu ilmu yang kita pelajari, contohnya :
  1. Ilmu sebagai benteng dari syubhat dan fitnah
    Karena dengan ilmu kita sanggup menjaga diri dari banyak sekali syubhat (kerancuan pemikiran) yang menyerang. Dengan ilmu juga kita sanggup membantah argumen orang-orang yang ingin merusak agama.

  1. Ilmu yaitu jalan menuju nirwana – nya Allah SWT. Dengan ilmu yang pelajari, kita bisa beribadah yang benar sehingga akan mengantarkan kita kepada nirwana nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

  1. Ilmu yaitu alasannya yaitu kebaikan di dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي االدِّين
“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (Muttafaq ‘alaihi).
Jika kita bercermin pada aktivitas berguru dan pengajaran bahu-membahu kita itu masih kalah jauh dengan generasi yang dimana ilmu pengetahuan itu menjadi penerang kehidupan di dunia ini. Misalnya, melihat dari aspek sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan islam yang maju itu dan sangat berkembang pada kurun ke-11 hingga ke-16 M ataupun ketika pembebasan bangsa eropa yaitu Reinasance sesudah kurun ke-16. Saat ini memang lebih maju akhir desimenasi teknologi yang sangat cepat. Akan tetapi sangat Jet-lack dengan perkembangan pengetahuan masyarakatnya yang hanya mementingkan status daripada sebuah keniscayaan ilmu yang bermanfaat.
Status disini kalau sanggup diartikan luas, ibarat status sosial atau hanya sebuah gelar, prestasi dan ratifikasi tanpa melihat sebuah indahnya proses dalam mencapai hasil tersebut. Para ilmuan di masa kemudian yaitu dalam periode agama Islam sangat menghargai sebuah proses ini, risikonya banyak dasar dan perkembangan ilmu pengetahuan yang berakar dari intuisi mereka dan sangat rasional dengan kehidupan sehari-hari, bahkan digunakan hingga ketika ini.
Proses ini adalah akhlak dalam menuntut ilmu, dalam kitabnya Ta'lim mu Ta'allim menyebutkan " tidak akan sanggup seseorang itu dalam mencapai sebuah ilmu tanpa mengetahui enam masalah atau syarat".
6 syarat yang dimaksud yaitu : 
  1. Kecerdasan. Kecerdasan disini diartikan sebagai nalar sehat artinya tidak abnormal ataupun sanggup bersosial selayaknya insan pada umumnya.
  2. Kemauan. Kemauan menjadi prasyarat kedua dalam belajar, lantaran sebaik apapun kecerdasan yang dimiliki kalau tidak digunakan untuk mau dalam menuntut ilmu, maka akan menjadi sia-sia. 
  3. Sabar. Dalam menuntut ilmu perasaan gairah ini perlu dibangun, gairah bukan berarti tidak membosankan, tentunya ada masa dimana seseorang tersebut itu akan bosan walaupun itu yaitu hobi kesukaannya.
  4. Modal. Modal disini tidak terbatas dalam artian harta benda apalagi hanya sekedar  "uang" . lebih dari itu impian yang berpengaruh yaitu modal utama sesorang dalam menggapai ilmunya baik ilmu dunia ataupun ilmu akhirat.
  5. Sesuai petunjuk guru. Guru atau sumber ilmu pengetahuan bukan hanya sumber ilmu tapi guru juga memiliki posisi yang sangat berarti bagi murid lantaran elok tidaknya seorang murid juga ditentukan adat guru. Guru ( di Gugu dan di Tiru ) jadi adat seorang murid menjadikannya mulia. Untuk itu sebagai seorang murid kita yaitu saya dan kalian semua, harus selektif menentukan guru sebelum berguru kepada siapapun.
  6. Lamanya waktu. Maksud dari usang nya waktu ini yaitu bahwasannya pola berguru yang baik yaitu berguru 1 jam dalam 6 hari yaitu lebih baik daripada berguru 6 jam dalam 1 hari, hal ini yang saya pegang pertama kali, jadi berguru sedikit tapi rutin, itulah kuncinya untuk menjadi cendekia dan cerdas.
Pesan saya kali ini, jalankan saja proses berguru dan mengajar itu di manapun Anda berada, lakukan dengan hati yang sabar, ikhlas, dan tenang. Niscaya Allah akan membalas perbuatan baik Anda. Saya punya kutipan untuk kalian yang sedang bermalas – malasan, biar kalian termotivasi dari perkataan imam besar yang satu ini. Terima kasih.
BILA KAMU TAK SANGGUP MENAHAN LELAHNYA BELAJAR, MAKA KAMU HARUS SANGGUP MENAHAN PERIHNYA KEBODOHAN.
Imam Asy-Syafi’i

Tidak ada komentar